SEJARAH DESA SEGERAN
Penemuan Perahu Kuno di Desa Segeran Indramayu
1.
Asal Nama Desa Segeran
Menurut arti lugowi nama Desa Segeran berasal dari kata
Seger “yang mendapat akhiran “an ". Seger artinya sehat sedangkan an
artinya selalu. Jadi secara lugowi nama Segeran artinya sehat-sehat selalu.
Asal nama Desa Segeran diambil dari jalannya peristiwa Ki
Ageng Mayung (Ki Arsitem) di waktu melarikan kepalanya Raden Surantaka yang
dipenggal lehernya oleh lawan musuhnya. Ia
menuju ke arah timur dari Indramayu, di tengah-tengah perjalanan, Ia berhenti
karena melihat kepala Raden Surantaka seakan-akan minta minum dan mandi.
Kemudian
Ki Ageng Mayung menancapkan pusakanya ke dalam tanah maka keluarlah air yang
sangat jernih sekali, lalu dimandikannya kepala Raden Surantaka tersebut,
tiba-tiba nampaklah segar. Akhirnya Ki Ageng Mayung (Ki Arsitem) memberikan
kenang-kenangan sebuah nama bahwa kelak pedukuhan tersebut dinamakan Desa
Segeran.
Dan
ada lagi sebagian para sesepuh kuno yang telah berpengalaman tentang sejarah
legenda, bahwa nama Desa Segeran ini diambil dari jalannya peristiwa Raden Jaka
Lelana dari Aceh yang mau sembah ke Cirebon. Tetapi di tengah-tengah perjalanan
bertemu dengan komplotan Pucuk Umum dari gunung kidul, yang dipimpin oleh Syekh
Lemah Abang, yang mau menghina Praja Nunggang Toya orang-orang Cirebon karena
terjadi perselisihan faham, maka terjadilah pertempuran. Tetapi Raden Jaka
Lelana tidak kuat menandingi kesaktian Syekh Lemah Abang, kemudian ia melarikan
diri langsung menuju Cirebon. Di tengah-tengah perjalanan ia merasa lelah haus
dan dahaga, ingin minum, dengan tiba-tiba dilihatnya sebuah sumur yang airnya
sangat jernih, lalu ia minum di situ, setelah minum nampaklah segar atau sehat
kembali seperti semula. Akhirnya Raden Jaka Lelana memberikan sebuah
kenang-kenangan kepada penduduk tersebut, bahwa kelak dinamai Desa Segeran.
2.
Kisah Ki Gede Segeran yang pertama
Sewaktu runtuhannya kerajaan Panjang, Akibat dari
im¬perialisme daerah kerajaan Mataram. Sekitar tahun 1585 banyak para pembesar
prajurit Panjang yang melarikan diri, mencari jalan keselamatan. Di antaranya
ada 4 orang pembesar kerajaan Panjang yang melarikan diri menuju kearah barat,
menyusuri lereng-lereng pegunungan diantara nya yaitu :
- 1)
Ki
Jaka Pedang
- 2)
Ki
Canggarita
- 3)
Ki
Brawijaya
- 4)
Nyi
Dewi (adik Ki Brawijaya)
Keempat
orang ini selalu di kejar-kejar oleh pasukan Mataram. Akhirnya pengejaran di
hentikan, karena sudah melewati batas kerajaan Mataram. Setelah keempat orang
pembesar ini telah merasa aman, dari pengejaran pasukan Mataram. Lalu mereka
berhenti untuk beristirahat sambil berunding buat mencari hutan yang cocok
untuk dibuka pedukuhan baru sambil menyamar, karena mereka masih khawatir,
kalau-kalau pasukan Mataram masih selalu membuntutinya dari belakang. Setelah
mereka bertahun- tahun lamanya dalam pengembaraan, mendaki gunung dan temurun
gunung dari suatu tempat ke tempat lain, tiba-tiba sampailah di daerah Cirebon
barat, sekitar lingkungan pegunungan Gundul. Disitu terdapat hulu sungai Randu
Kentir, yang melalui desa Segeran dan yang berpusat atau berpapasan dengan
sungai Guna Kasian di sekitar pengimbaran Masjid Segeran dan bermuara sungai
disamping sebelah utara, kira-kira 100 meter dari Ki Buyut Tuban/Tirta maya (
Muara Sampang ). Sungai ini sekarang sudah musnah merata menjadi daratan
akibat perubahan alam. Katanya menurut sesepuh kuno, kelak akan membuka
sendiri.
Kemudian
ke empat orang tersebut, mereka membuat perahu rakit kemudian dinaikinya
bersama-sama sambil menyusuri aliran sungai Randu Kentir. Akhirnya sampailah
di pusat atau dipapasan sungai tersebut yaitu di sekitar alun-alun Masjid
Segeran (yang sekarang di namakan Masjid Jami Al Mujahidn). Mereka berhentilah
untuk beristirahat disitu. Sambil beristirahat mereka berunding untuk bertempat
tinggal atau membuka pedukuhan baru disitu, sambil menyamar. Setelah
bersepakat kemudian mereka membagi tugasnya masing-masing.
Ki
Brawijaya dengan Nyi Dewi membuka atau membabad hutannya menuju kearah
barat yaitu yang sekarang menjadi Desa Sliyeg.
Ki
Ageng Jaka Pedang dengan Ki Buyut Canggarita membuka atau membabad hutannya
menuju ke arah timur, yang se karang menjadi Desa Segeran. Adapun kelanjutannya
Nyi Dewi mengikuti Ki Jaka Pedang tinggal di Segeran. Pada saat itu agamanya mereka
masih memeluk agama Budha.
3.
Benteng pertahanan desa Segeran
Ki Ageng Jaka
Pedang adalah Ki Gede Segeran yang pertama, Ia di dalam menjaga keamanannya dan
ketertiban desanya untuk menolak apabila ada serangan baik dari luar maupun
dari dalam, dibuatlah kubu-kubu bentang perta¬hanan yang kokoh dan tangguh di 4
(empat) penjuru desa¬nya diantaranya :
1)
Ki
Buyut Canggarita memegang sebelah barat Desa Segeran.
2)
Nyi
Mas Buyut Putri memegang sebelah timur Desa Segeran.
3)
Nyi
Mas Buyut Dewi memegang sebelah selatan Desa Segeran.
4)
Ki
Buyut Limun memegang sebelah utara Desa Segeran.
Keempat
orang prajurit, ini adalah mereka orang yang dapat dipercaya kesaktiannya,
tangguh lagi bijaksana, mereka mempunyai ilmu yang dalam/ilmu gho'ib masing-
masing yang luar biasa, diantaranya :
- Ki Buyut Canggarita bisa menjelma binatang buas :
seperti harimau, ular dan lain sebagainya.
- Nyi Buyut Putri dapat menjadikan/menjiad Desa Segeran
menjadi lautan.
- Nyi Buyut Dewi dapat menjadikan/menjiad Desa Segeran
menjadi api.
- Ki Buyut Limun dapat menjadikan/menjiad Desa Segeran
menjadi tidak kelihatan.
4.
Mata Pencaharian
Mata
pencaharian Ki Gede Segeran adalah bercocok tanam, perkebunan dan perikanan.
tempat-tempat pertaniannya diantaranya :
Pesawahan
Blok Silengkong/Alimunjaya, persawahan ini tempat pertama, Ki Gede Segeran
bercocok tanam yang pertama, dan juga akhirnya tempat ini dipakai untuk
pemendaman pusaka-pusaka Segeran. Dewasa ini pesawahan tersebut dipakai
bengkoknya Kuwu dan tempat ini masih jahil atau masih banyak syetannya sering
menimbulkan malapetaka.
Pesawahan Blok Sikobar,
pesawahan ini adalah yang di panennya tidak habis-habis. Akhirnya dibakar oleh
Ki Gede Segeran tetapi Dewa penghuni pesawahan tersebut tidak terima, lalu ia
mengutuk Ki Gede Segeran dan anak cucunya, bahwa untuk selanjutnya apabila mau
menanam padi dalam jangka setahun dua kali panen tebarnyapun harus dua kali
juga.
- Pesawahan Blok Sikembar, tempat ini adalah pesawahan Ki
Gede Segeran yang dihadiahkan kepada orang yang mempunyai anak dua atau
kembar.
- Pesawahan Blok Sibuyung, pesawahan Blok Sibandeng, dan
lain sebagainya.
- Tempat perikanan yaitu di Tambak kidul dan Tambak
girang.
- Tempat perkebunan yaitu di tegal panas.
5.
Penduduk Segeran
Penduduk desa
Segeran ini, bukanlah penduduk asli Segeran. Melainkan hasil dari perjodohan
atau asimilasi dari beberapa daerah atau tempat, seperti :
- Dari kerajaan Panjang yaitu
penduduk pertama desa Segeran dari keturunan Ki Gede Segeran yang pertama,
yang menempati sekitar Blok Kemujing ke timur sampai ke makam Nyi Mas
Buyut Putri.
- Dari tegal Gubug yaitu penduduk
yang ke dua dari keturunan Ki Ageng Jaka Galunggang atau Jaka Gondang
menempati sekitar Blok Gondang.
- Dari Jogya / Mataram keturunan
Pinangeran Jaya penigas, mendiami semua Blok di Segeran.
- Dari Demak, keturunan putra
Demak yaitu Kiyai Yahya mendiami sekitar Blok Gondang.
- Dari kraton Cirebon atau desa
Martasinga keturunan Elang Dunian dan Ratu Mulya.
- Dari bangsa Cina yang mendiami
sekitar Blok Langgar.
- Dari Majalengka keturunan Kiyai
Irsyad mendiami Blok Mundu dan lain-lainnya.
Jadi
sudah jelas kalau kita lihat di dalam data-data di atas, bahwa penduduk desa
Segeran ini bukanlah satu ke turunan atau penduduk asli lagi, melainkan hasil
perpaduan dari berbagai macam golongan dan suku bangsa. Sedangkan tiap-tiap Dia
mempunyai ide Agama dan kepercayaan masing-masing, dan pasti mereka
mempertahankan idenya sendiri-sendiri. Kemungkinan inilah yang menyebabkan
perpecahan aliran agama Islam dan organisasi Islam di desa Segeran : Aliran
Mayoritas Agama Islam Menganut faham
Ahlu Sunnah Waljama'ah yang terdiri dari organisasi kemasayarakatam Seperti NU/Maarif, Muhammadiyah, Abah Umar, PUI, dll.
Kesemuanya
ini saling berebut pengaruh dalam kalangan masyarakat, tetapi dia tidak menekan
kepada seseorang untuk masuk kepada golongannya. Mereka itu tiap-tiap golongan
saling berdampingan dan hidup toleransi, bebas memilih kepercayaannya dan
organisasinya masing-masing.
6.
KISAH JAKA GALUNGGANG KI GEDE SEGERAN YANG KE II PEMBAWA
AGAMA ISLAM
Raja Bali Lombok mempunyai seorang anak perempuan yang
bernama Nyi Mas Endang Asmara. Dia selalu bermimpi bertemu dengan Sunan Syarif
Hidayatulloh. Lalu la jatuh cinta dan kasmaran, tetapi ditolak oleh ayahnya
karena berbeda aliran agama yang dipeluknya. Kalau Raja Bali Lom¬bok memeluk
agama Budha sedangkan Syarif Hidayatulloh memeluk agama Islam. Tetapi Nyi Mas
Endang Asmara memaksa dengan tekad bulat hatinya dari pada tidak terlaksana
jadi Permaisurinya lebih baik mati. Akhirnya dikabulkan permintaannya tersebut.
Tapi harus ada syaratnya, yaitu harus memeluk agama Islam dan harus pandai dan
hukum-hukum syari'at Islam. Dia sanggup, lalu didatangkannya guru-guru besar
Islam dari Surabaya dan Gresik oleh Raja Bali -Lombok untuk mendidik anaknya
dalam hukum-hukum Islam. Setelah pandai kemudian Nyi Mas Endang Asmara permisi
pada ayahnya untuk pergi ke Cirebon, setelah diizinkan, Raja Bali Lombok
mengutus patih Bunadir untuk mengawalnya untuk menjaga keselamatan dirinya,
Patih Bunadir dibekali pusaka ampuh Raja Bali Lombok yaitu " Gonde Wulung
". Akhirnya berangkatlah Nyi Mas Endang Asmara bersama Patih Bunadir dari
kerajaan Bali Lombok menuju ke Cirebon.
Ditengah-tengah
perjalanan di hutan belantara ketahuan oleh iblis atau syetan, atas niat baik
kedua orang tersebut. Seraya iblis berkata “Nah inilah makanan saya, akan saya
goda sampai dimana ketebalan iman mereka berdua."
Pertama-tama
syetan masuk ke dalam jasadnya Patih Bunadir menggoda hatinya, tiba-tiba niat
baik Patih Bunadir lenyap, tidak ingat akan perintah yang semula. Timbullah
nafsu syahwat yang serakah mengajak Nyi Mas Endang Asmara untuk berbuat yang
tidak senono, perbuatan yang keji yang di kutuk oleh Tuhan. Tetapi Nyi Mas Endang
Asmara masih kuat imannya, la menolak atas ajakan niat buruk Patih Bunadir
tersebut. Lalu Nyi Mas Endang Asmara menasehatinya “Hai paman Patih, apakah kau
lupa akan niat kita semula, bahwa saya pergi dari kerajaan Bali Lombok itu
ingin dijadikan Permaisuri Raja Cirebon yaitu Sunan Syarif Hidayatulloh ".
Sedangkan Tuhan lebih mengetahui semua perbuatan yang kita lakukan, dan orang
Cirebon juga waspada atas gerak-gerik dan jejak langkah kita berdua ".
Jadi tolonglah jangan kau lakukan perbuatan yang hina itu".
"Tiba-tiba Patih Bunadir sadar kembali, maka keluarlah syetan dari
jasadnya Patih Bunadir dengan keadaan lesu, karena tidak berhasil maksudnya.
Syetan tidak putus asa maka dia masuk ke dalam jasadnya Nyi Mas Endang Asmara,
menggoda hatinya agar terjun ke dalam jurang kehinaan, maka berubahlah
ingatanya Nyi Mas Endang Asmara. Yang awalnya tekun pada cita-cita yang semula
menjadi serong mengajak Patih Bunadir seperti apa yang di kehendakinya. Tetapi
Patih Bunadir telah insyaf, sadar hatinya la merasa takut terhadap kutukan
Tuhan dan penyesalan Rajanya. Kemudian menasehatinya seperti nasehat yang
telah diberikan kepadanya akhirnya Nyi Mas Endang Asmara sadar dan insyaf
kembali. Kemudian syetan keluar lagi dengan hati bingung dan mumet lantas
berfikir sejenak, bagaimana caranya menggoda kedua insan ini supaya menjadi
kawannya dan bangkrut dengan cita-citanya. Setelah berfikir la mengambil
keputusan, bahwa satu-satunya jalan yang paling baik untuk menggoda kedua insan
ini harus membelah dirinya menjadi dua bagian, sebagian masuk ke dalam jasadnya
Patih Bunadir dan yang sebagian lagi masuk ke dalam jasadnya Nyi Mas Endang
Asmara. Maka berubahlah menjadi dua bagian, sebagian masuk ke dalam jasadnya
Patih Bunadir dan yang sebagian lagi masuk ke dalam jasadnya Nyi Mas Endang
Asmara. Maka berubahlah ingatan niat baik mereka, lupa akan tugas semula dan
kini timbul nafsu birahi yang menjadi-jadi sudah tidak bisa dikendalikan lagi,
akhirnya terjunlah kepada perbuatan yang tidak senono yang di kutuk oleh Tuhan.
Setelah selesai Syetan keluar kembali dari jasadnya dua insan tersebut dengan
perasaan hati yang riang gembira, sambil bertepuk tangan, bersorak-sorai atas
keberhasilannya. Seketika kedua insan ini sadar lalu menangis bersama-sama
menyesali atas perbuatannya yang tidak senonoh itu, dan minta ampunan serta
bertaubat kepada Tuhan. Tapi apa hendak dikata nasi telah menjadi bubur takkan
menjadi nasi lagi. Kemudian mereka berdua berunding untuk perjalanan
selanjutnya, apakah diteruskan ke Cirebon atau pulang kembali ke Raja Bali
Lombok, setelah bersepakat dengan coba-coba saja untuk melanjutkan ke Cirebon
Setelah
sampai di Cirebon, langsung menghadap Sunan Syarif Hidayatulloh, setelah
disidang kemudian Nyi Mas Endang Asmara dengan terang-terangan ingin dijadikan
Permaisurinya, tetapi Sunan Syarif Hidayatulloh menolak dengan secara halus.
Katanya "Bahwasanya saat ini saya belum berniat untuk beristri, tapi entah
kalau di kemudian hari, tetapi saya cuma hanya bisa dapat memberikan
kenang-kenangan atau sebagai tanda mata kepada kamu berupa kerudung putih, dan
silahkan kalian berdua jangan berlama-lama di kraton lekas pergi meninggalkan
Cirebon ".
Kemudian
Nyi Mas Endang Asmara permisi untuk keluar sambil menutupkan kerudung kenang-kenangan
tadi di atas kepala dan mukanya sambil menangis, merasa malu kepada khalayak
ramai atas penolakan Sunan Syarif Hidayatulloh, dan menyesali atas
perbuatannya. Kalau toh Nyi Mas Endang Asmara ini jujur tidak serong,
kemungkinan Sunan Syarif Hidayatulloh akan menerima atas kedatangannya apalagi
Dia seorang istri yang cantik lagi pandai dalam hukum-hukum syari'at Islam. Dan
selanjutnya Nyi Mas Endang Asmara tidak pulang kenegaranya, karena takut dan
malu disesali oleh ayahnya.
Dia
menuju ke arah barat dari Cirebon, sampai kemudian di sebuah tegalan yang tidak
ada pepohonannya la bersama Patih Bunadir mendirikan sebuah rumah gubug dan
membuka pesantren disana. Yang dewasa ini tegalan tersebut dinamai Desa Tegal
Gubug.
Pesantren
Islamnya merupakan saingan berat pesantren Cirebon baik murid laki-lakinya,
apalagi murid perempuannya lebih banyak bila dibandingkan dengan pesantren Cirebon.
Hal ini disebabkan oleh kepandaian Nyi Mas Endang Asmara bersama Patih Bunadir,
dalam hal hukum-hukum agama Islam yang telah belajar dari tokoh-tokoh Islam
yaitu dari Pulau Jawa, Tuban, dan Gresik. Pada suatu ketika Nyi Mas Endang
Asmara berkata kepada Patih Bunadir bahwa ia sedang mengandung. Lalu Patih
Bunadir teringat lagi kepada peristiwa masa lalu yang telah silam, maka
timbullah nafsu murkanya kepada Sunan Syarif Hidayatulloh ia ingin membalas
dendam atas penghinaan orang-orang Cirebon
Kemudian
Patih Bunadir permisi kepada Nyi Mas Endang Asmara untuk membalas dendam kepada
orang-orang Cirebon, tetapi ditolak tidak diizinkan, karena merasa khawatir
bahwa orang-orang Cirebon itu tidak boleh dihina, karena mereka adalah sebagai
gudangnya / pusatnya ilmu, baik ilmu kedhzohiran maupun ilmu kebatinan. Tetapi
la memaksa bertekad bulat ia lebih baik mati di medan perang dari pada hidup
menyandang malu, juga ia sudah merasa tangguh dan mampu untuk menghadapi
gempuran orang-orang Cirebon, karena ia menyandarkan kepada santri-santrinya
yang banyak dan mengandalkan pusaka Gonde Wulung.
Sebelum
berangkat Patih Bunadir berwasiat dulu kepada Nyi Mas Endang Asmara, jikalau
nanti lahir si jabang bayi kemudian dengan selamat, andaikata bayi nanti
laki-laki maka la harus diberi nama Jaka Galunggang, terus berangkatlah Patih
Bunadir dikawal oleh santri-santrinya dengan berbondong-bondong dan
bersorak-sorai menyerbu kraton Cirebon sehingga suasana kraton Cirebon menjadi
kacau balau, guruh-gemuruh penuh oleh ratapan dan rintihan masyarakat yang
sangat menyedihkan yang sedang mendapatkan siksaan dari Patih Bunadir dan
santri-santrinya yang sangat kejam tidak mengenal perikemanusiaan. Sehingga di
ketahui oleh para prajurit dalam istana, maka terjadilah puncak peperangan yang
sangat dahsyat dan menyerukan, sudah dapat dielakkan kembali, istana Cirebon
dikerumuni oleh percikan darah dan dentingan senjata disertai oleh jeritan dan
ratapan prajurit dari kedua belah pihak yang menjadi korban pertempuran,
terutama dari pihak tegal gubug. Patih Bunadir melihat para prajuritnya terpukul
mundur, amarahnya semakin menjadi-jadi tidak tertahan lagi sehingga terjun di
gelanggang pertempuran memimpin didepan dengan semangat yang menggigih, sambil
menggunakan pusaka Gonde Wulung ia membabi buta menghantam prajurit Cirebon
bagaikan harimau menerkam mangsanya.
Akhirnya
para prajurit dan pinangeran kucar-kacir tidak ada yang menandingi kesaktian
Patih Bunadir dan pusaka Gonde Wulung. Mereka mengungsi meninggalkan kraton
Cirebon bersama-sama dengan Sunan Syarif Hidayatulloh menghindar dari ancaman
Patih Bunadir. Sewaktu Ki Kuwu Sangkan sembah ke kraton Cirebon, tiba-tiba
dilihatnya gerombolan pasukan Tegal Gubug yang dipimpin oleh Patih Bunadir,
yang sedang mengancam-ancam orang Cirebon. Sehingga membuat darah muda Ki Kuwu
naik, amarahnya sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Dan sewaktu ia mau menghantam
Patih Bunadir tiba-tiba di halang-halangi oleh Golok Cabang, bahwa ia juga
sanggup untuk menumpas Patih Bunadir dan murid-muridnya serta mengambil Pusaka
Gonde Wulung.
Maka
kemudian diperintahnya Golok Cabang oleh Ki Kuwu maka berangkatlah si Golok
Cabang menemui Patih Bunadir setelah sampai di hadapannya maka Golok Cabang
berkata : " Hai Patih Bunadir, kau ingin hidup atau ingin mati ,
seandainya kau masih ingin hidup maka kau pulanglah kembali jangan kau
lanjutkan perbuatan serakahmu itu, tetapi kalau kau ingin mati maka akulah si
Golok Cabang pusaka dalam Cirebon, yang akan sanggup memotong lehermu itu
" Dengan seketika itu terkejutlah Patih Bunadir, karena baru saja la
melihat pusaka bisa berbicara dan bergerak sendiri, maka mulailah semangat
Patih Bunadir melemah, perasaannya mulai takut seakan selalu mengintai
dirinya, tapi sudah kagok asong, maka dicabutnya pusaka Gonde Wulung dan
akhirnya terjadilah perang tanding antara Golok Cabang dengan Gonde Wulung
yang sangat dahsyat sekali, pilih bobot pilih tanding, sama-sama kuat dan
saktinya tetapi lama-kelamaan Golok Cabang merasa kewalahan sehingga kehabisan
tenaga, maka larilah si golok Cabang mendekati Ki Kuwu Sangkan, agar dijiad /
setrum kembali dengan ilmu keramatnya. Setelah dijiad, maka benar-benar pulih
tenaga Golok Cabang dan bertambah dua kali lipat dari tenaga semula, kemudian
la bertempur kembali, maka terkejutlah Gonde Wulung melihat tenaga si Golok
Cabang semakin kuat dari tenaga semula, sehingga Gonde Wulung tidak mampu lagi
untuk melawannya, maka terpepet terus Gonde Wulung oleh si Golok Cabang, Gonde
Wulung cuma bisa mendampingi Patih Bunadir dari ancaman maut dari Golok
Cabang. Dan sewaktu Golok Cabang mengancam leher Patih Bunadir, maka Gonde
Wulung mempertahankannya dengan sekuat tenaga sampai menempel di Golok Cabang,
tetapi tidak tertahankan oleh Gonde Wulung, sehingga akhirnya Golok Cabang
menancap di lehernya Patih Bunadir, maka gugurlah Patih Bunadir. Melihat
kejadian tersebut pusaka Gonde Wulung meloncat dari ikatan Golok Cabang, dan
lari pulang ke Tegal Gubug melapor kepada Nyi Mas Endang Asmara, bahwa Patih
Bunadir telah gugur di medan perang la tidak bisa berdaya apa-apa lagi, mungkin
sudah titik tulis bagja dirinya dari Tuhan yang Maha Esa, harus gugur di medan
tempur,. Kemudian lama-kelamaan Nyi Mas Endang Asmara melahirkan seorang anak
laki-laki lalu diberinya nama sebagaimana wasiat dari ayahnya yaitu Patih
Bunadir dengan nama Jaka Galunggang.
Setelah
Jaka Galunggang dewasa ia menanyakan ayahnya kepada ibunya tetapi tidak
diberitahu oleh ibunya, cuma ibunya menjawab bahwa ayahnya sudah mati. Karena
ibunya-merasa khawatir kalau-kalau la berhasrat ingin menuntut balas atas
kematian ayahnya, tetapi Jaka Galunggang memaksa ingin tahu akan riwayat hidup
ayahnya. Akhirnya diberi tahu oleh ibunya, setelah Jaka Galunggang mendengar
cerita riwayat hidup ayahnya, hatinya tergugah ingin turut bela sungkawa atau
membalas dendam kepada orang yang menganiayanya. Kemudian Jaka Galunggang minta
do'a restu kepada ibunya, agar la mengizinkan dirinya untuk menuntut balas
dendam atas kematian ayahnya, tetapi tidak diizinkan oleh ibunya melainkan
dinasehatinya " Anakku engkau berani kepada orang Cirebon itu mau
mengandalkan apa, mau mengandalkan pusaka Gonde Wulung, Gonde Wulung sudah
tidak mampu untuk menandingi pusaka Cirebon ". Setelah mendengar nasehat
dari ibunya, bahwa pusaka Gonde Wulung tidak mampu menandingi pusaka orang
Cirebon, tidak mampu menandingi pusaka Cirebon ''. Setelah mendengar nasehat
dari ibunya, bahwa pusaka Gonde Wulung tidak mampu menandingi pusaka orang
Cirebon, maka Jaka Galunggang menjadi sadar. Sebenarnya' dia berani menantang
orang Cirebon itu karena menyandarkan Pusaka Gonde Wulung. Kemudian Jaka
Galunggang permisi kepada Ibunya, dia ingin berkelana mencari pengalaman,
setelah diizinkan, maka berangkatlah Jaka Galunggang dari Tegal Gubug menuju ke
arah utara sehingga sampai ke daerah Bolon (babadan) yang di kuasai oleh Ki
Ageng Warsita. Kemudian Jaka Galunggang ngaula disitu, sampai akhirnya Ki Ageng
Warsita bersangka buruk bahwa Jaka Galunggang mencintai Permaisurinya, akhirnya
ia diusir dari Bolon. Kemudian Jaka Galunggang melanjutkan perjalanannya sampai
melewati Desa Pring Kasap, terus masuk ke perbatasan sebelah selatan Desa
Segeran.
Jaka
Galunggang sambil menelusuri jalan yang lenggak-lenggok ( bahasa jawa elak-elok
) maka jalan tersebut diberi nama oleh Jaka Galunggang dengan nama Blok Teluk,
di tengah-tengah perjalanan Jaka Galunggang merasa haus ingin minum, maka
ditemukan sebuah tunggak jati yang gerowong bagaikan gentong di dalamnya
terdapat sumber mata air yang jernih dan airnya tidak akan habis-habis biarpun
diambil oleh orang banyak setiap harinya, kemudian Jaka Galunggang minum,
ditempat tersebut, sehingga akhirnya pedukuhan tersebut kemudian diberi nama
oleh Jaka Galunggang Blok Jati Gentong.
Kemudian
la meneruskan perjalanannya terus menuju ke arah utara, sampai akhirnya bertemu
dengan seorang wanita, lalu wanita itu ditanya oleh Jaka Galunggang namun
wanita tersebut diam saja tidak memperdulikannya maka akhirnya pedukuhan
tersebut diberi nama oleh Jaka Galunggang Blok Ladeg. Kemudian membelok ke
arah, timur, sesampainya di pedukuhan Segeran waktunya sudah pagi (dalam bahasa
jawa enjing) maka akhirnya pedukuhan tersebut kemudian diberi nama Blok
Kemujing. Kemudian Jaka Galunggang meneruskan perjalanannya dengan membelok lagi
ke arah selatan, sampai akhirnya dia menetap di suatu pedukuhan, berhubung ia
namanya Jaka Galunggang maka pedukuhan yang ditempatinya itu di beri nama Blok
Gondang.
Ki
Gede Segeran atau Jaka Pedang mempunyai seorang anak perempuan yang sangat
cantik yaitu Nyi Mas Asmawati ( Nyi Mas Warsiti ), Nyi Mas Asmawati ini
jatuh cinta pada Jaka Galunggang, tetapi tidak di restui oleh ayahnya yaitu Ki
Gede Segeran, karena mereka mempunyai perbedaan agama yang dipeluknya. Akan
tetapi Nyi Mas Asmawati memaksa, sampai akhirnya Ki Gede Segeran atau Ki Ageng
Jaka Pedang memperbolehkan anaknya menikah dengan Jaka Galunggang, tetapi
mempunyai syarat asalkan calon menantunya itu dapat menandingi kesaktiannya.
Akhirnya terpaksa Jaka Galunggang menyanggupi permintaannya yaitu tanding jurit
dengan Ki Gede Segeran, bukan saja la mau menjatuhkan martabat calon mertuanya
akan tetapi la menuruti kehendaknya. Kemudian pertarunganpun dimulai dan bukan
main hebatnya sungguh dahsyat, karena menentukan titik darah terakhir bagi
dirinya masing-masing untuk mempertaruhkan Agama dan pedukuhan serta kehormatan
dirinya. Sedangkan Ki Gede Segeran bukan sembarang orang sudah keceluk muluk kawentar
manca daerah orang sakti mandraguna, pertarungan antara Jaka Galunggang dengan
Ki Gede Segeran sama kuat pilih babat pilih tanding sama saktinya. Akan tetapi
Ki Gede Segeran di waktu tarung ia lengah, sehingga posisinya diserang oleh
Jaka Galunggang sampai akhirnya terjatuh ( dalam bahasa jawa Kadepok ) maka
akhirnya pedukuhan tersebut kemudian diberi nama Blok Sidepok. Sampai akhirnya
lama-kelamaan Jaka Galunggang merasa kewalahan melawan Ki Gede Segeran, maka
Jaka Galunggang mencabut pusaka Gonde Wulung dan dibabatkan atau dibacokkan
kepada Ki Gede Gegeran, akhirnya kemudian Blok tersebut di beri nama Blok
Bacok, lalu dilihatnya bacokan tersebut ternyata meleset hanya keluar darah
sedikit dan masih sangat getas, maka akhirnya kemudian blok tersebut diberi
nama Blok Getasan (yang sekarang menjadi tempat pemakaman ). Sampai akhirnya Ki
Gede Segeran lari akan tetapi ia terus dikejar, dan karena la merasa lelah
melamprek atau diam untuk beristirahat di suatu pedukuhan sehingga akhirnya
pedukuhan tersebut kemudian diberi nama Blok Kelampran (Klampean), kemudian Ki
Gede Segeran lari lagi menuju ke arah selatan dan membelok atau menikung lagi
ke arah barat, dan akhirnya pedukuhan yang ditegongi Ki Gede Segeran itu
kemudian diberi nama Blok Tikungan dan terus lari ke perbatasan sebelah selatan
desa Segeran, Dan karena Ki Gede Segeran merasa malu karena terus dikejar oleh
Jaka Galunggang akhirnya ia menghilang tanpa krana tidak ada bekasnya.
Sampai
akhirnya Jaka Galunggang pulang ke Segeran dan kemudian ia menikah dengan putri
Ki Gede Segeran yaitu Nyai Mas Asmawati, sampai akhirnya Jaka Galunggang
menggantikan ayah mertuanya menjadi Ki Gede Segeran yang ke dua. Beliau mendirikan sebuah pesantren Islam di desanya, dan santri-santrinya
banyak sekali dari dalam maupun dari luar desa Segeran sehingga menjadi
saingan berat bagi pesantren Cirebon.
Di
perbatasan desa Segeran sebelah utara yaitu pedukuhan ( desa ) Pondoh yang
perintah oleh Ki Gede Tambak Yoda. la menjadi santri orang Cirebon, dan sewaktu
la mau seba Cirebon, berhubung jalannya melalui desa Segeran tiba-tiba dihadang
oleh Jaka Galunggang atau Ki Gede Segeran yang kedua. Dan itu cuma di jadikan
sebagai latar belakang atau perantaraan saja agar bisa mencari jalan buat persengketaan
dengan orang-orang Cirebon, . Karena secara diam-diam la ingin sedang mencari
peluang yang baik untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya. Dan sebagai
tolak ukur untuk mengayoni orang Cirebon, la ingin mengetes dulu
santri-santrinya sampai dimana kesaktian orang Cirebon. Maka kemudian Ki Gede
Tambak Yoda di halang-halangi oleh Ki Gede Segeran di suruhnya Ki Gede Pondoh
untuk membatalkan maksud dan tujuannya, akan tetapi Ki Gede Pondoh menolaknya
dan memaksa ingin melanjutkan perjalanannya ke Cirebon. Akhirnya terjadi
perselisihan antara Ki Gede Pondoh dengan Ki Gede Segeran, dan sampai terjadi
persengketaan yang sengat seru, tetapi akhirnya Ki Gede Tambak Yoda tidak kuat
mengayoni atau menandingi kesaktian Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang ( Jaka
Gondang ).
Sampai
kemudian Ki Gede Pondoh lari dan terus dikejarnya, Ki Gede Pondoh minta bantuan
ke desa Pringgacala yaitu Ki Gede Mas Kawung Agung akan tetapi dia tidak
sanggup untuk menandingi kesaktian Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang.
Kemudian Ki Gede Pondoh lari lagi minta bantuan pada Ki Gede Kapringan akan
tetapi sama saja tidak kuat menandingi kesaktian Ki Gede Segeran. Terus Ki Gede
Pondoh minta bantuan kepada Ki Gede Jagapura, kemudian lari lagi minta bantuan
pada Ki Gede Gresik tapi semuanya sama saja tidak ada yang sanggup untuk
menandingi kesaktiannya Ki Gede Segeran. Sedangkan pengejaran masih diteruskan
sampai Ki Gede Tambak Yoda tidak pulang ke desanya tetapi terus menuju ke
Cirebon. Dan kebetulan sekali pada waktu itu Ki Kuwu Sangkan sedang berada di
Sumur Tamba , Dia melihat orang yang sedang kejar-kejaran kemudian diperhatikan
setelah jelas bahwa orang yang dikejarnya itu adalah Ki Gede Pondoh yaitu
Tambak Yoda, sedang yang mengejarnya adalah anaknya Patih Bunadir musuh satru
bebuyutan orang Cirebon.
Kemudian
Ki Kuwu Sangkan marah sekali, dan terus memerintah pusaka Golok Cabang untuk
menghalang-halangi Jaka Galunggang atau Ki Gede Segeran diminta untuk
memberhentikan pengejarannya terhadap Ki Gede Pondoh. Kemudian Golok Cabang
mencegat langkahnya Jaka Galunggang atau Ki Gede Segeran sambil berkata '' Hai
Ki Gede Segeran kau masih ingin hidup atau mati, kalau kau masih ingin hidup
hentikan pengejaran terhadap Ki Gede Pondoh, andai kau ingin mati maka akulah
yang akan malawanmu. Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang terkejut dan
terheran-heran melihat pusaka dapat berbicara sendiri, Kemudian pusaka Gonde
Wulung membisikkan pada Jaka Galunggang " inilah pusaka dalam Cirebon
yaitu si Golok Cabang, sayapun sudah tidak mampu untuk menandinginya, akan
tetapi demi menjaga keselamatan kita berdua dan menjaga kehormatan seorang
kesatria, maka kita orang Segeran pantang mundur dalam menghadapi
pertempuran, Biarpun gugur di medan tempur asalkan budi dan jasa baik kita
tetap termasyhur walau jasad telah di kubur ". Kemudian Ki Gede Segeran
atau Jaka Galunggang menjawab Baiklah kita layani saja si Golok Cabang, tapi
akan tetapi dengan syarat kita bertarung sambil onder atau mundur mendekati
desa Segeran disana kita nanti minta bantuan pusaka Segeran yaitu Bedug.
Akhirnya bertarunglah si Golok Cabang dengan Gonde Wulung sambil onder,
lama-kelamaan pertarungan itu sampailah di perbatasan desa Segeran. Dan
selanjutnya Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang menyuruh istrinya untuk memukul
pusaka Bedug, setelah Bedug dipukul atau dibunyikan maka dengan tiba-tiba dan
aneh sekali kaburlah si Golok Cabang ke angkasa, kemudian pusaka Golok
Cabang tersebut melaporkan kejadiannya kepada Ki Kuwu Sangkan bahwa dia tidak
mampu menangkap Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang bersama Gonde Wulungnya.
Lalu
kemudian Ki Kuwu Sangkan bersama Golok Cabang berangkat lagi menuju desa
Segeran dengan tujuan ingin menangkap Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang.
Akan tetapi setibanya di perbatasan desa Segeran sudah diketahui oleh Ki Gede
Segeran atau Jaka Galunggang, dan segera Ki Gede Segeran memukul atau
membunyikan pusaka Bedugnya, sampai akhirnya Ki Kuwu Sangkan dan Golok Cabang
kabur di angkasa dan Ki Kuwu merasa kewalahan menghadapi pusaka orang Segeran.
akhirnya dia minta bantuan kepada para pinangeran dalam Cirebon, di suruh
merempug dan menangkap Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang di desa Segeran.
Dan
para pinangeranpun berbondong-bondong menuju desa Segeran, akan tetapi
sesampainya di perbatasan desa Segeran di sambut dengan gembira oleh para
santri-santri Segeran, dengan besatan panah, luncuran tombak, bambu runcing,
dan hantaman pedang, kelewang dan pukulan, maka terjadilah peperangan yang
sangat dahsyat dan aduh ilmu kesaktian, kemudian di tengah-tengah pertempuran
pusaka Bedug Di pukul hingga membuat para pinangeran Cirebon kabur berantakan
dan tunggang langgang. Ki Kuwu Sangkan melihat kejadian yang demikian itu, la
merasa bingung dan heran mengapa para pinangeran bisa kalang kabut.
Kemudian
Ki Kuwu Sangkan duduk termenung sambil berfikir jalan, apa yang harus di
tempuh agar supaya berhasil membekot Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang dan
kejadian apa yang dapat mengaburkan dirinya bersama para pinangeran. Setelah
berfikir bahwa satu-satunya jalan la harus memberikan tipu muslihat, kemudian
ia menyuruh Bupati mega mendung dan Golok Cabang untuk menyerang kembali desa
Segeran dan Ki Kuwu Sangkan sendiri mengintai dari angkasa, ingin mengetahui
kejadian yang aneh lagi ajaib di Segeran itu.
Kedatangannya
di Segeran Patih Mega Mendung dan Golok Cabang disambut dengan pertempuran oleh
Jaka Galunggang dan Pusaka Gonde Wulung, setelah bertempur Ki Gede Segeran
merasa kewalahan menandingi Golok Cabang dan Patih Mega Mendung, kemudian Jaka
Galunggang menyuruh istrinya untuk memukul atau membunyikan pusaka bedug
setelah bedug dipukul maka kaburlah Patih Mega Mendung bersama Golok Cabang dan
akhirnya di ketahui oleh Ki Kuwu Sangkan dari angkasa bahwa yang dapat
mengaburkan orang-orang Cirebon itu adalah sebuah Bedug Pusaka.
Kemudian
Ki Kuwu Sangkan menghubungi kembali Golok Cabang, dan disuruh bertarung kembali
dengan syarat bertempurnya dengan jinak dan sambil onder atau mundur menjauhi
dari desa Segeran Supaya Jaka Galunggang jauh dari desanya, Dalam pemikiran
hati Jaka Galunggang satu-satunya jalan untuk melumpuhkan kekuatan orang
Cirebon, Dia barus dapat menangkap pusakanya dulu .yaitu Golok Cabang dan tekad
Jaka Galunggang atau Ki Gede Segeran sudah bulat, biar mati di medan laga dari
pada cita-citanya tidak terlaksana yaitu ingin menghancurkan orang-orang
Cirebon dan keturunannya buat membalas dendam atas kematian orang
tuanya/ayahandanya.
Kemudian
dengan tiba-tiba Golok Cabang Sesumbar dari kejauhan menantang perang lagi
dengan Jaka Galunggang kemudian laka Galunggang permisi dengan istrinya yaitu
Nyi Mas Asmawati yang sedang bunting (hamil), bahwa la akan berangkat secara
mati-matian guna untuk membekot si Golok Cabang, andai kata la berada dalam
keapesan atau gugur dalam medan perang la terlebih dahulu memberi wasiat kepada
istrinya. Apabila kelak kemudian la dikaruniai seorang anak laki-laki la harus
diberi nama yaitu Jaka Sana dan jagalah pusaka bedug ini
baik-baik, apabila ada orang Cirebon yang membuat huru-hara di desa Segeran maka
pukul saja pusaka Bedugnya.
Kemudian
Ki Gede Segeran bersama pusaka Gonde Wulung berangkat menangkap si Golok Cabang
maka terjadilah pertarungan yang dahsyat. Perangnya Golok Cabang sebagaimana
yang telah di wasiati oleh Ki Kuwu Sangkan, la berperang dengan jinak dan
sambil onder menjauhi desa Segeran seolah-olah mau ditangkap akan tetapi kalau
ditangkap licin tidak kena, dan ini membuat penasaran Jaka Galunggang,
akhirnya Golok Cabang di desak terus sampai pulau Sulawesi, dan istrinya yang
lagi menjaga pusaka Bedug merasa kesal menunggu suaminya sampai akhirnya dia
mengantuk. Ki Kuwu Sangkan melihat Nyi Mas Asmawati yang sedang mengantuk
kemudian Ki Kuwu segera turun dari angkasa guna mencuri pusaka bedug milik Ki
Gede Segeran, kemudian Ki Kuwu Sangkan membawanya ke sebelah selatan Segeran.
Kemudian memendam pusaka bedug tersebut di sebuah kedokan dan di injak-injak
serta di kencinginya kemudian Ki Kuwu Sangkan mengeluarkan ipat-ipat atau
sepatah kutukan kepada pusaka bedug sidaguri tersebut bahwa kelak pohon sida
guri itu tidak akan ada yang besar yang dapat dibuat bedug lagi dan tempat
pemendaman bedug tersebut di beri nama blok bedug dan bedugnya sekarang berada
di Panjunan.
Kemudian Ki Kuwu Sangkan
setelah memendam bedug kemudian mencari golok cabang yang berada dalam
pengejaran Ki Gede Segeran yang kedua yaitu Jaka Galunggang. Setelah bertemu
kemudian Golok Cabang dijiad atau ditambah lagi tenaganya dengan batin Ki Kuwu
Sangkan maka dengan tiba-tiba tenaga Golok Cabang Pulih kembali malah bertambah
besar dan siap untuk mengamuk menghantam pusaka Gonde Wulung dan Jaka
Galunggang. Karena pusaka Gonde Wulung telah berpengalaman sewaktu bertarung
dengan Golok Cabang waktu dulu dengan ayahnya jaka Galunggang yang gugur dalam
pertempuran. Kemudian pusaka Gonde Wulung menyuruh pulang kepada majikannya
yaitu Jaka Galunggang agar pertempurannya itu sambil mundur yaitu pulang lagi
ke Segeran untuk minta bantuan kepada pusaka bedug dan ternyata setelah sampai
di Segeran dan mau memukul pusaka bedug ternyata bedugnya hilang tanpa krana,
dan dicarinya kemana-mana tidak ketemu juga akhirnya Jaka Galunggang atau Ki
Gede Segeran yang kedua kebingungan mau menyerah dia malu. Karena dia orang
yang diksura sakti mandraguna kemudian dirinya menghilang tanpa krana tiada
membekas.
Adapun cerita singkat mengenai
kisah perjalanan Ki Gede Segeran selanjutnya adalah Jaka Sanah sebagai Ki Gede
Segeran yang ketiga menggantikan ayahnya yaitu Jaka Galunggang sebagai Ki Gede
Segeran yang kedua. sewaktu dipimpin oleh Jaka Sanalah Desa Segeran mau
menggabungkan diri kepada Cirebon dan Jaka Sana atau Ki Gede Segeran yang
ketiga menjadi tameng dada sebagai wakil pertama orang Cirebon karena
ketangkasannya kesaktiannya, kesatriaannya serta keberaniannya dalam menegakkan
Agama Islam. Adapun penyebaran agama Islam yang termasyhur di Segeran setelah
adanya penyempurnaan dari Cirebon dibawah oleh tokoh yang terkenal yaitu
seperti : Kiyai Juri yang menetap di Blok Bedug, Kiyai Gebog yang menetap di
Blok Gondang, Kiyai Carim yang menetap di Blok Klampean dan masih banyak lagi.
7.
Kuburan Ki Gede Segeran
Sewaktu agresi
pertama tahun + 1947, para Sesepuh Segeran banyak yang mengungsi ke Cirebon,
ya¬ng bermukim di keluarga Sultan Kanoman yaitu Elang Jati Kusuma. Disana para
Sesepuh Segeran memperbincangkan ma¬salah kuburan (makam) Ki Gede Segeran yang
sampai saat sekarang ini belum ada orang atau sejarah yang menunjuk¬kan atau
mengetahui dimana makam Ki Gede Segeran. Maka kemudian Para Sesepuh Segeran
mengajukan usul kepada Sultan Kanoman agar kiranya membuat kuburan atau tapakan
palsu Ki Gede Segeran di atas Gunung Jati, Mengingat masyarakat Segeran selalu
mencari-cari dimana makam Ki Gede Segeran, kemudian Sultan Kanoman
mengizinkannya untuk membuat makam atau tapakan palsu. Ki Gede Segeran.
Begitulah kurang lebihnya riwayat makam Ki Gede Segeran.Label: KAJIAN